Pages

Kamis, 04 November 2010

Analisis Wacana Kritis : pada contoh teks pemberitaan “ hebohnya si keong racun “

NUKILAN
Durasi 5.24 menit yang menggemaskan. Tampil duet dengan dibumbui kata-kata bahasa Indonesia kemudian diaduk berbagai aneka istilah-istilah Betawi, serta digincu kata bahasa Inggris, Sinta dan Jojo dinobatkan sebagai seleb internet dadakan dengan tembang andalan Keong Racun. Yang patut diacungi jempol, keduanya mencipta dan membongkar serta meracuni hasrat purba manusia yakni membuncahnya cinta bercampur hasrat. Buktinya? Wacana berkobar di antara pengguna twitter membincangkan olah vokal dan olah tubuh dari dua dara anak baru gede (ABG) itu. Sampai-sampai ada yang merespons sinis penampilan Sinta-Jojo yang mengusung genre dangdut. Keong Racun, apaan tuh. Penampilannya biasa-biasa aja,” tulis seorang penanggap.


Prawacana
Analisis wacana yang dimaksudkan dalam tulisan ini, adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subyek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis dengan mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat di ketahui. Jadi, wacana dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subyek dan berbagai tindakan representasi.
Dua di antara sejumlah ranting aliran analisis wacana kritis yang belakangan sangat dikenal adalah  karya Norman Fairclough dan Teun van Dijk. Apabila dibanding sejumlah karya lain, buah pikiran van Dijk dinilai lebih jernih dalam merinci struktur, komponen dan unsur-unsur wacana. Karena itu, model analisis wacana kritis ini pula terkesan mendapat tempat tersendiri di kalangan analis wacana kritis.
Kohesi yang merupakan tautan atau hubungan antar bagian dalam wacana sehingga menjadi satu kesatuan, menjadi salah satu kata kunci dalam analisis wacana positivistik.
Berbeda dari pandangan tersebut, dalam kerangka analisis wacana kritis, struktur wacana tersusun atas tiga aras yang membentuk satu kesatuan. Masing-masing adalah struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro (macro structure, superstructure, and micro structure). Struktur makro menunjuk pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana (van Dijk. 2003).
Superstruktur menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup. Bagian mana yang didahulukan, serta bagian mana yang dikemudiankan, akan diatur demi kepentingan pembuat wacana. Analisis Wacana Kritis
CDA melihat pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam CDA dipandang menyebabkan hubungan dialektis antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, istitusi, dan struktur sosial.
Konsep ini di pertegas oleh Fairclough dan Wodak yang melihat praktik wacana bias jadi menampilkan efek ideologis artinya wacana dapat memproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan wanita, kelompok mayoritas dan minoritas dimana perbedaan itu direpresentasikan dalam praktik sosial.
Lebih lanjut, Fairclough dan Wodak berpendapat bahwa analisis wacana kritis adalah bagaimana bahasa menyebabkan kelompok sosial yang ada bertarung dan mengajukan ideologinya masing-masing. Berikut karakteristik penting dari analisis kritis menurut mereka:
1). Tindakan. Wacana dapat dipahami sebagai tindakan (actions) yaitu mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi. Sesorang berbicara, menulis, menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Wacana dalam prinsip ini, dipandang sebagai sesuatu yang betujuan apakah untuk mendebat, mempengaruhi, membujuk, menyangga, bereaksi dan sebagainya. Selain itu wacana dipahami sebagai sesuatu yang di ekspresikan secara sadar, terkontrol bukan sesuatu di luar kendali atau diekspresikan secara sadar.
2). Konteks. Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana dipandang diproduksi dan di mengerti dan di analisis dalam konteks tertentu. Guy Cook menjelaskan bahwa analisis wacana memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengkomunikasikan dengan siapa dan mengapa; kahalayaknya, situasi apa, melalui medium apa, bagaimana, perbedaan tipe dan perkembangan komunikasi dan hubungan masing-masing pihak. Tiga hal sentaralnya adalah teks (semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak dilembar kertas, tetapi semua jenis ekspresi komunikasi). Konteks (memasukan semua jenis situasi dan hal yang berada dilar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, situsai dimana teks itu diproduksi serta fungsi yang dimaksudkan). Wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatianya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi.
3). Historis, menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks.
4). Kekuasaan. Analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan. Wacana dalam bentuk teks, percakapan atau apa pun tidak di pandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan anatara wacana dan masyarakat.
Ideologi adalah salah satu konsep sentral dalam analisis wacana kritis karena setiap bentuk teks, percakapan dan sebaginya adalah paraktik ideologi atau pancaran ideologi tertentu. Wacana bagi ideologi adalah meduim melalui mana kelompok dominan mempersuasai dan mengkomunikasikan kepada khalayak kekuasaan yang mereka miliki sehingga absah dan benar.
Semua karakteristik penting dari analsis wacana kritis tentunya membutuhkan pola pendekatan analisis. Hal ini diperlukan untuk memberi penjelasan bagaimana wacana di kembangkan maupun mempengaruhi khalayak. Michael Foucault adalah salah satu pemikir yang mengembangkan teori wacana. Dalam studinya, Ia memperlihatkan bahwa manusia muncul karena susunan kata-kata dan benda yang diubah-ubah2. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, sepenggal masa yang disebut modernitas ini menghasilkan susunan yang memberi tempat istimewa pada diri manusia yang sadar diri. Susunan yang dimaksudkan Foucault adalah keretakan hubungan subyek (kata-kata) dan obyek (benda-benda) yang karena suatu hal diutuhkan kembali. Suatu hal yang membuat keretakan hubungan subyek dan obyek di utuhkan kembali adalah kekuasaan dan kekuasaan itu diproduksi oleh wacana. Bagaimana wacana diproduksi, siapa yang memproduksi dan apa efek produksi wacana?.
Untuk menjawab pertanyaan diatas adalah konsep wacana Michael Foucault. Dalam konsepnya Foucault tidak memandang wacana sebagai serangkaian kata atau preposisi dalam teks tetapi memproduksi yang lain (sebuah gagasan, konsep atau efek)3. Wacana secara sistematis dalam ide, opini, konsep dan pandangan hidup di bentuk dalam konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak.
Dalam tulisan ini mencoba mengamati fungsi sebuah wacana teks sebagai satu kesatuan yang utuh, melalui pendekatan analisis wacana kritis.
Target Analisis
Struktur mikro yang menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika. Aspek semantik suatu wacana mencakup latar, rincian, maksud, pengandaian, serta nominalisasi.
Aspek sintaksis suatu wacana berkenaan dengan bagaimana frase dan atau kalimat disusun untuk dikemukakan. Ini mencakup bentuk kalimat, koherensi, serta pemilihan sejumlah kata ganti.
Aspek stilistika suatu wacana berkenaan dengan pilihan kata dan lagak gaya yang digunakan oleh pelaku wacana. Dalam kaitan pemilihan kata ganti yang digunakan dalam suatu kalimat, aspek leksikon ini berkaitan erat dengan aspek sintaksis. Aspek retorik suatu wacana menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan. Ini mencakup penampilan grafis, bentuk tulisan, metafora, serta ekspresi yang digunakan.
Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi sosial pembuat wacana. Secara teoretik, pernyataan ini didasarkan pada penalaran bahwa cara memandang terhadap suatu kenyataan akan menentukan corak dan struktur wacana yang dihasilkan. Bila dikehendaki sampai pada ihwal bagaimana wacana tertentu bertali-temali dengan struktur sosial dan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat, maka analisis wacana kritis ini harus dilanjutkan dengan analisis sosial.
Misalnya dalam teks Pemberitaan berikut :
JAKARTA–MI: Durasi 5.24 menit yang menggemaskan. Tampil duet dengan dibumbui kata-kata bahasa Indonesia kemudian diaduk berbagai aneka istilah-istilah Betawi, serta digincu kata bahasa Inggris, Sinta dan Jojo dinobatkan sebagai seleb internet dadakan dengan tembang andalan Keong Racun.
Yang patut diacungi jempol, keduanya mencipta dan membongkar serta meracuni hasrat purba manusia yakni membuncahnya cinta bercampur hasrat. Buktinya?
Wacana berkobar di antara pengguna twitter membincangkan olah vokal dan olah tubuh dari dua dara anak baru gede (ABG) itu. Sampai-sampai ada yang merespons sinis penampilan Sinta-Jojo yang mengusung genre dangdut. Keong Racun, apaan tuh. Penampilannya biasa-biasa aja,” tulis seorang penanggap.
Dengan sesekali menyungging senyum, menyibak rambut hitamnya, menggeleng-gelengkan kepala dan mendaratkan telunjuk ke pipi wajah bening, kedua mojang Bandung itu melakonkan salah satu parodi dari masyarakat yakni mesin hasrat (desire machine) untuk tak berkesudahan menenggak miras oplosan bermerek kenikmatan demi kenikmatan. Hati pria mana yang tidak deg-degan.
Betapa tidak? Ketika merangkai kalimat demi kalimat dalam balutan nada demi nada, Subur Tahroni sebagai pencipta lagu mengisahkan kepada publik mengenai seseorang berpembawaan serba berkecukupan dengan berpanggilan sebagai Jack. “Sorry sorry sorry Jack”.
Dengan bermodalkan harta berlimpah, abang Jack menyandang predikat sebagai koboy kucai. Olok-olok bagi mereka berpenampilan sok jawara.
Refrain lagu yang menggebrak dengan membidik kata-kata pamungkas, “Dasar kau keong racun. Baru kenal eh ngajak tidur. Ngomong nggak sopan santun. Kau anggap aku ayam kampung….”
Rupanya si Keong Racun Jack menyamaratakan perempuan sebagai sosok gampangan, sampai-sampai melecut istilah “ayam kampung” karena baru kenal langsung tancap gas mengajak tidur. Weleh, weleh.
Bahkan, penulis lagu kemudian memuncaki profil laki-laki itu sebagai sosok yang memperlakukan perempuan secara tidak semestinya dengan menganggap perempuan tidak lebih dari sekedar barang dagangan atau komoditi.
Lagi-lagi si Jack mengajak check-in di hotel dan menikmati waktu-waktu santai secara plus plus plus. Ujung-ujungnya, “Kau rayu diriku. Kau goda diriku. Kau colek diriku. Eh ku takut sekali”.
Lagu yang dinyanyikan kali pertama oleh Lisa kemudian dibawakan secara lipsync (menggerakkan bibir sesuai lirik, seakan-akan sedang bernyanyi) oleh Jovita Adityasari alias Jojo (19) dan Sinta itu menyiratkan pemberontakan atas anggapan bahwa tubuh serta-merta dapat dibendakan atau dijuabelikan atau bahkan dikomodifikasi di pasar Happy Happy.
Dikisahkan pula oleh penulis lagu bahwa, “Tanpa basa basi kau ngajak happy happy. Eh kau tak tahu malu. Tanpa basa basi kau ngajak happy happy”. Bukan kebetulan ada pengulangan empat kali kata happy.
Ada hikmat yang mau dibidik dan dihantar kepada pemirsa, yakni mengulang adalah induk dari proses pembelajaran. Dalam bahasa Latik klasik: Repetitio est mater studiorum. Jangan dulu berhenti.
Lagi-lagi ada penyangatan dari bahasa tubuh si Jack yang mengumbar cinta berhasrat-nikmat dengan mulut kumat kemot menyusul sepasang matanya melotot setelah melihat body semok, alhasil pikiran jorok.
Teks Keong Racun menyergap pikiran setiap insan muda meski Jojo mengutarakan aksinya bersama Shinta sebagai hanya iseng.
“Awalnya sih hanya iseng. Saya dengan Shinta kan sudah berteman sejak dari SMA. Kemudian sekitar satu bulan lalu, saya iseng merekam adegan nyanyi berdua denga Shinta di rumah saya di Cimahi. Suaranya sih suara penyanyi aslinya. Kita hanya lipsync saja,” kata Jojo saat ditemui wartawan di Kampus Unpas Jalan Lengkong Besar, Kamis siang (29/7).
“Kalau pilihan lagu Keong Racun atas rekomendasi teman. Ada yang ngasih tahu, coba download lagu Keong Racun. Awalnya saya gak pernah denger lagu itu. Pas didengerin, sempet kaget, ternyata liriknya aneh,” kata Jojo seperti dikutip dari sebuah
situs warta nasional.
Efek bola salju menggelinding. Berbekal saran sohibnya, Jojo meng-upload-nya lewat situs Youtube. Selang tiga hari, video itu menghiasi sebuah forum internet dan membuat heboh.
Tembang Keong Racun serta merta meroket di ranah dunia maya, bahkan membombardir situs mikroblogging twitter dan mengungguli warta kisruh tumpahan minyak di Teluk Meksiko yang melengserkan petinggi perusahaan minyak British Petroleum, Tony Hayward.
MediaIndonesia.com



Contoh teks diatas menggambarkan bahwa struktur analisis wacana tentunya tidak terlepas dari keterkaitan atau hubungan antara wacana dengan kenyataan. Kenyataan atau realitas dipahami sebagai seperangkat konstruksi sosial yang dibentuk melalui wacana. Dalam CDA khususnya teori wacana Foucault, hal ini disebut struktur diskursif.  Fenomena pemberitaan mengenai “jojo + shinta si keong racun” ternyata memberikan efek yang luar biasa, dilihat dari bagaimana paradigma berfikir seorang penulis berita dan gaya pemberitaannya. Penulis berita mampu membangun konstruksi teks pemberitaannya dari berbagai  aspek. Misalnya dari teks diatas, penulis menyajikan gaya tulisan yang terkesan apa adanya sederhana, menggelitik. Sedangkan dalam aspek masalah yang disoroti, sang penulis berita mencoba membangun konstruksi pola wacana dalam syair-syairnya, untuk kemudian disajikan sebagai kontemplasi analisis pemikirannya. Merujuk pada apa yang telah disampaikan di awal tentang karakteristik  pertama analisis kritis yaitu  tindakan. Wacana dapat dipahami sebagai tindakan (actions) yaitu mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi. Seseorang berbicara, menulis, menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Wacana dalam prinsip ini, dipandang sebagai sesuatu yang betujuan apakah untuk mendebat, mempengaruhi, membujuk, menyangga, bereaksi dan sebagainya. Selain itu wacana dipahami sebagai sesuatu yang di ekspresikan secara sadar, terkontrol bukan sesuatu di luar kendali atau diekspresikan secara sadar dalam struktur mikro.  Struktur mikro yang menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika. Aspek-aspek tersebut yang membangun sebuah realitas dipahami sebagai seperangkat konstruksi sosial yang dibentuk melalui sebuah wacana ( struktur diskursif).
Struktur diskursif merupakan pandangan kita tentang suatu obyek yang dibentuk dalam batas-batas yang telah ditentukan. Batasan tersebut dicirikan oleh obyek, definisi dari prespektif yang paling dipercaya dan dianggap benar. Persepsi kita terhadap suatu obyek dibentuk dan dibatasi oleh praktik diskursif atau dibatasi oleh pandangan yang mendefinisikan sesuatu yang ini benar dan yang lainya salah. Konsekuensinya adalah bahwa pandangan tertentu membatasi pandangan khalayak dan mengarahkan pada jalan pikiran tertentu dan menghayati itu sebagai sesuatu yang benar. Mengacu contoh teks berita diatas,  apakah benar jojo dan shinta yang mempopulerkan lagu keong racun ? apakah benar kiranya jojo dan sinta sekarang menjadi artis dadakan ? serta apakah benar, lagu Keong Racun serta merta meroket di ranah dunia maya, bahkan mengungguli pemberitaan kisruh tumpahan minyak di Teluk Meksiko yang melengserkan petinggi perusahaan minyak British Petroleum, Tony Hayward ?. Teks pemberitaan diatas menimbulkan sebuah persepsi bahwa, memang benar agaknya semua yang tersusun sebagai local meaning dalam teks tersebut sebagai suatu kebenaran. Jika dilihat dari segi konteksnya, lagu keong racun memang dahulu dinyanyikan oleh seorang penyanyi yang bernama Lisa, dengan genre musik dangdut koplo. Namun, banyak orang tidak mendengar bahkan menyukai lagu ini. Setelah dengan iseng, jojo dan sinta menguploade video lipsing mereka dalam sebuah media youtube di internet, lagu ini kemudian banyak digemari dan dikenal orang, serta mereka menjadi terkenal. Justru dibanding penyanyi aslinya, jojo dan sinta lebih dikenal orang sebagai ’si keong racun’ . Konteks tersebut mampu memberikan sebuah jawaban, memang benar adanya bahwa jojo dan sinta yang mempopulerkan lagu keong racun. Mereka sekarang bahkan menjadi artis dadakan yang mengalahkan pemberitaan tumpahan minyak di Teluk Meksiko yang melengserkan petinggi perusahaan minyak British Petroleum, Tony Hayward. Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana dipandang diproduksi dan di mengerti dan di analisis dalam konteks tertentu. Guy Cook menjelaskan bahwa analisis wacana memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengkomunikasikan dengan siapa dan mengapa; khalayaknya, situasi apa, melalui medium apa, bagaimana, perbedaan tipe dan perkembangan komunikasi dan hubungan masing-masing pihak. Tiga hal sentaralnya adalah teks (semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak dilembar kertas, tetapi semua jenis ekspresi komunikasi). Konteks (memasukan semua jenis situasi dan hal yang berada dilar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, situsai dimana teks itu diproduksi serta fungsi yang dimaksudkan). Wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatianya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi.
Sebagai orang awam yang membaca teks pemberitaan tersebut diatas, tanpa mengerti issu yang berkembang dimasyarakat tentang ramainya lagu keong racun tentu akan sangat sulit dalam menerima local meaning dari teks tersebut. Jawaban atas :    apakah benar jojo dan shinta yang mempopulerkan lagu keong racun ? apakah benar kiranya jojo dan sinta sekarang menjadi artis dadakan ? serta apakah benar, lagu Keong Racun serta merta meroket di ranah dunia maya, bahkan mengungguli pemberitaan kisruh tumpahan minyak di Teluk Meksiko yang melengserkan petinggi perusahaan minyak British Petroleum, Tony Hayward ? tentu saja semua itu pada akhirnya tidak mampu mempengaruhi persepsi kita untuk menjawab iya, apabila kita tidak memahami konteks issue yg berkembang dimasyarakat. Hal ini menjelaskan tataran karakteristik ketiga dari analisis wacana kritis  yaitu menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks.
Dalam memahami sebuah teks berita, tentu kadangkala timbul sebuah pertentangan-pertentangan. Pertentangan tersebut terkait, apakah si penulis telah mampu mempengaruhi kita ? , apakah si penulis merangkai berita berdasarkan fakta ?, apakah apa yang disajikan si penulis dalam beritanya merupakan sebuah analisi pemikirannya yang bersumber dari adanya fakta ? atau hanya menyajikan fenomena ?   Analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan. Wacana dalam bentuk teks, percakapan atau apa pun tidak di pandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan anatara wacana dan masyarakat. Jadi pada intinnya, terkait hubungan antar kutub, baik itu benar salah, positif atau negatif, yang terangkai dalam satu hubungan antara wacana dan masyarakat.
Semua karakteristik penting dari analsis wacana kritis tentunya membutuhkan pola pendekatan analisis. Hal ini diperlukan untuk memberi penjelasan bagaimana wacana di kembangkan maupun mempengaruhi khalayak. Michael Foucault adalah salah satu pemikir yang mengembangkan teori wacana. Dalam studinya, Ia memperlihatkan bahwa manusia muncul karena susunan kata-kata dan benda yang diubah-ubah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, sepenggal masa yang disebut modernitas ini menghasilkan susunan yang memberi tempat istimewa pada diri manusia yang sadar diri. Susunan yang dimaksudkan Foucault adalah keretakan hubungan subyek (kata-kata) dan obyek (benda-benda) yang karena suatu hal diutuhkan kembali.
Contoh teks diatas juga memiliki beberapa karakteristik. Karakteristik pertama pada penggunaan perpindahan referen acuan kata ganti, baik kata ganti orang maupun kata ganti milik.
Misalnya contoh dalam teks pada kata yang dicetak tebal :
Yang patut diacungi jempol, keduanya mencipta dan membongkar serta meracuni hasrat purba manusia yakni membuncahnya cinta bercampur hasrat. Buktinya?
Wacana berkobar di antara pengguna twitter membincangkan olah vokal dan olah tubuh dari dua dara anak baru gede (ABG) itu.
Sampai-sampai ada yang merespons sinis penampilan Sinta-Jojo yang mengusung genre dangdut.
Keong Racun, apaan tuh. Penampilannya biasa-biasa aja,” tulis seorang penanggap.
Dengan sesekali menyungging senyum, menyibak rambut hitamnya, menggeleng-gelengkan kepala dan mendaratkan telunjuk ke pipi wajah bening, kedua mojang Bandung itu melakonkan salah satu parodi dari masyarakat yakni mesin hasrat (desire machine) untuk tak berkesudahan menenggak miras oplosan bermerek kenikmatan demi kenikmatan. Hati pria mana yang tidak deg-degan.
Dalam teks tersebut, penulis berita mencoba mengungkapkan isi berita yang tersaji di dalam kalimat berita. Terlihat dalam contoh :
Tembang Keong Racun serta merta meroket di ranah dunia maya, bahkan membombardir situs mikroblogging twitter dan mengungguli warta kisruh tumpahan minyak di Teluk Meksiko yang melengserkan petinggi perusahaan minyak British Petroleum, Tony Hayward
Hal ini menjelaskan, bagaimana satu pihak, kelompok, orang, gagasan,dan peristiwa ditampilkan dengan cara tertentu dalam wacana dan mempengaruhi pemaknaan khalayak. Penekananya adalah bagaimana poisisi dari aktor sosial, posisi gagasan, atau peristiwa ditempatkan dalam teks. Posisi pembaca dalam teks sangat penting dan diperhitungkan,  karena pembaca bukan semata-mata pihak yang hanya menerima teks, tetapi juga ikut melaksanakan transaksi sebagaimana akan terlibat dalam teks.
Referensi
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana. Yogyakarta: LkiS. Periksa pula Stephen W. Littlejohn. 1996. Theories of Human Communication. Belmont: Wadsworth Publishing Company.
George Yule. 1985. The Study of Language. Cambridge: Cambridge University Press.
Teun A. van Dijk. 2003. Ideology and discourse: A Multidisciplinary Introduction. Internet Course for the Oberta de Catalunya (UOC).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar